White paper

Dampak penggunaan biodiesel kelapa sawit terhadap kualitas udara di Indonesia

Alternative fuels
Fuels
Clean air Fuels

(English version here.)

Indonesia mulai beralih pada standar emisi kendaraan yang lebih maju, bahan bakar bersulfur rendah, dan memperluas penggunaan biodiesel kelapa sawit, maka penting untuk memahami dampak dari peningkatan tingkat pencampuran biodiesel kelapa sawit terhadap emisi kendaraan. Studi ini didasarkan pada laporan ICCT tahun 2018 yang menganalisis dampak dari pencampuran biodiesel terhadap emisi polutan udara di Indonesia dengan menambahkan 84 studi baru tentang kinerja biodiesel dan emisi gas buang – diantaranya terdapat 28 studi yang menggunakan minyak sawit dan sembilan studi yang ada dilakukan di Indonesia atau Malaysia – dan menyusun hasil studi menjadi sebuah meta-analisis. Juga penting untuk diketahui, analisis ini juga memperhitungkan tren terkini, termasuk penerapan teknologi pengontrol emisi yang lebih maju, sistem injeksi bahan bakar common rail, dan bahan bakar solar bersulfur rendah (LSD). Pengaruh biodiesel pada emisi nitrogen oxides (NOx), hydrocarbons, carbon monoxide, dan particulate matter juga dianalisis. 

Hasil studi menunjukkan bahwa pencampuran biodiesel kelapa sawit dengan bahan bakar solar meningkatkan emisi NOx, dan dampak tersebut semakin terlihat pada campuran LSD dan sistem injeksi common rail. Tren tersebut, seperti yang terlihat pada gambar dibawah, secara statistik cukup signifikan dan menunjukkan peningkatan emisi NOx sebesar 12%, 17%, dan 41% untuk B30 (tingkat campuran 30%), B40, dan B100 (biodiesel murni) untuk tahun mendatang di Indonesia, Selain itu, sistem injeksi yang modern dan bahan bakar dapat mengurangi pengurangan PM, CO, dan HC yang diharapkan dari biodiesel dibandingkan dengan bahan bakar solar. Perlu dicatat, bagaimanapun, mengingat variasi yang cukup besar dalam dataset, ada ketidakpastian tentang besaran yang tepat dari dampak NOx dari biodiesel. 

Figure